Kerbau Pulau Moa

Pulau Moa – Surga bagi para kerbau

Pulau Moa

Kerbau memang menjadi andalan utama masyarakat di Pulau Moa, yang secara administratif berada di Kecamatan Moa Lakor, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Sejauh mata memandang, sekelompok kerbau tampak bergaya dengan beragam aksinya.

Ada yang sedang merumput, ada pula yang asyik berkubang di air keruh berlumpur. Anak-anak kerbau tampak bermain dengan induknya. Pulau mini yang terletak antara Laut Banda dan Laut Timor itu memang menyediakan apa saja yang dibutuhkan dan diinginkan oleh sang kerbau.

Padang rumput yang menghampar luas di sekitar Gunung Kerbau, tepatnya di Desa Klis, Tounwawan, dan Siota itu menjadi sumber pakan abadi bagi kerbau. Rumput itu tampak tumbuh subur menghijau lantaran disiram air hujan ketika musim penghujan dan adanya mata air di sepanjang tahun. Pemilik hewan ternak tak perlu repot-repot mencari pakan. Semuanya tersedia gratis.

Tersedia Alami

Hewan ternak itu cukup dilepas dan tak perlu dikandangkan. Ketika haus, kerbau-kerbau menuju kolam air yang memang tersedia di beberapa lokasi, khususnya di lembahlembah gunung. Kenyang merumput, ketika mentari terik membakar, sekelompok kerbau mendinginkan tubuhnya dengan berendam di kubangan air yang juga tersedia secara alami.

Di musim hujan, air memenuhi kubangan tersebut. Sedangkan di musim kemarau, kendati airnya menyusut, kubangan tersebut masih mendapat pasokan dari mata air yang mengalir dari hulu. Menjelang senja, kerbau-kerbau itu beristirahat sesuka hatinya di pinggir-pinggir padang rumput.

Meskipun para peternak tak mengandangkan kerbaunya, mereka tahu kerbau miliknya masing-masing. Kenyamanan habitat seperti itulah yang membuat postur tubuh kerbau asal Moa unik. Dibandingkan dengan kerbau asal Sumatra, Jawa, Madura, dan lain-lain, kerbau jantan Moa tampak gagah perkasa. Induknya pun tampak besar-besar dan gemuk-gemuk.

Kerbau semacam ini tentu saja sangat tinggi harganya karena termasuk kualitas ekspor. Ketika Timor Leste belum berpisah dari RI, kawasan itu menjadi pasar utama bagi peternak kerbau. Maklum, jarak antara Moa dan Timor Leste paling dekat dibandingkan dengan kawasan lainnya. Perdagangan itu sebenarnya telah merekatkan hubungan masyarakat yang bermukim di dua daerah tersebut.

Hubungan itu lalu terputus lantaran Timor Leste berpisah dengan RI. Praktis, perdagangan kerbau ke wilayah tersebut dihentikan. Kondisi itu berakibat menurunnya laju perekonomian masyarakat Moa. Kini, hanya beberapa pedagang dari Makassar, Jeneponto, dan Tana Toraja yang membeli kerbau Moa.

Sebuah kapal berdaya muat 75-100 kerbau dikerahkan untuk mengangkut kerbau Moa ke Sulawesi Selatan. Jadwal tetap angkutan massal bagi perdagangan kerbau memang belum ada. Namun yang jelas, ketika mendekati Idul Adha, masyarakat Moa ketiban rezeki. Kapal-kapal hilir mudik membawa kerbau mereka untuk dijadikan hewan kurban di berbagai daerah.

Tak hanya kerbau yang diangkut. Sapi, kambing, dan domba juga menjadi andalan bagi Pulau Moa. Menurut data yang dilansir BPS Maluku Tenggara Barat pada tahun 2007, populasi hewan ternak di Kecamatan Moa Lakor sangat berlimpah. Populasi ternak tersebut mencapai 4.146 sapi, 30.341 kerbau, 35.718 kambing, 11.614 domba, 5.440 babi, dan 3.310 kuda. Kelimpahan ternak ini tentu saja jauh melampaui potensi tujuh kecamatan lainnya di kabupaten tersebut.

Jadi, jangan kaget kalau seorang peternak di Desa Tounwawan dan Klis dapat memiliki kerbau hingga 500 ekor. Itu belum termasuk sapi, kambing, domba, dan kuda yang menjadi miliknya.

Pertahankan Hutan Daya tarik

Pulau Moa tak hanya kerbau dan hewan ternak lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan nabati, pulau yang secara geografis titik tengahnya berada pada koordinat 8o 10′ 24″ Lintang Selatan dan 127o 55’54″ Bujur Timur ini memiliki areal tegal dan ladang yang dapat dibudidayakan untuk berbagai tanaman seperti jagung dan ketela pohon.

Meskipun termasuk berada di lahan kering, penduduk masih dapat bercocok tanam di kala musim penghujan. Sumber air hujan itulah yang menopang budi daya mereka. Memang ada mata air yang memancar di lembah-lembah. Namun, sumber air bersih tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan penduduk.

Tampak pipa berdiameter 10 sentimeter sepanjang tiga kilometer dibentangkan untuk menyalurkan air dari lembah menuju bak-bak penampungan. Air yang tak tertampung dalam bak inilah yang mengalir bebas ke bawah. Air itu lalu tertampung dan membentuk kubangan-kubangan yang menjadi tempat favorit bagi para kerbau mendinginkan suhu tubuh di kala siang hari.

Kalau Gunung Kerbau relatif tak tertutupi vegetasi, lain lagi dengan panorama di sisi barat Pulau Moa, tepatnya di empat desa, yakni Kaiwatu, Wakarleli, Patti, dan Werwaru. Hutan dan semak belukar masih menghiasi kawasan tersebut. Menurut Prof Dr Aris Poniman, pakar dari Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), keberadaan sumber mata air di lembah ini juga tak terlepas dari secuil hutan yang masih tersisa di bukit-bukit Pulau Moa.

Di bukit itu, masih tersimpan hutan yang sangat vital perannya. “Hutan tersebut menjadi pelindung sekaligus menjadi kawasan resapan air yang sangat berguna bagi kawasan di bawahnya. Karena itu, kawasan hutan ini harus dijaga kelestariannya,” ujar Aris.

Hal itu penting lantaran beberapa jalur jaringan jalan dibuka menembus hutan belukar yang menghubungkan akses wilayah utara dan selatan. Kondisi itu jelas sangat rentan bagi keberadaan hutan. Akses jalan semakin memudahkan sekelompok orang membabat hutan untuk diambil kayunya. Selain itu, batu kapur di tepi jalan tersebut mulai ditambang.

Perilaku semacam itu mestinya dihentikan agar hutan yang tersisa tidak ludes. Bisa dibayangkan kalau suatu saat nanti kawasan resapan air itu tak lagi menyimpan air bagi penduduk dan ternaknya. Moa niscaya menjadi pulau gersang yang semakin kering dan sunyi dari kehidupan hewan ternak. b siswo

Berharap Listrik dari Biogas

Kotoran puluhan ribu kerbau itu dapat diolah menjadi listrik bertenaga biogas yang murah dan bebas polusi. Hidup di kawasan pulau kecil nan terisolasi seperti di Pulau Moa dituntut untuk serbamandiri. Bayangkan, kawasan itu hanya dapat dilalui dengan kapal perintis yang berlayar dua minggu sekali. Bisa dibayangkan jika semua kebutuhan penduduknya di 12 desa itu bergantung pada pulau lain. Praktis biayanya menjadi sangat mahal.

Hal itu terlihat dari harga bensin, misalnya, yang dapat mencapai 10.000-12.000 rupiah per liter. Bensin dipakai untuk menggerakkan genset agar listrik bisa dihasilkan di malam hari. Itu pun jika pasokan lancar. Bila tak ada suplai bensin, permukiman penduduk yang mengumpul di pinggir pantai itu terpaksa gelap gulita di malam hari. Listrik menjadi barang yang amat mahal di Pulau Moa.

Karena itu, perlu energi alternatif yang murah meriah. Salah satu peluangnya adalah biogas yang bersumber dari kotoran kerbau. Puluhan ribu kerbau yang ada di Pulau Moa sebenarnya dapat diandalkan untuk membangkitkan energi listrik. Terwujudnya hal itu dapat meringankan kebutuhan listrik sepanjang masa.

Sebab, bahan baku berupa kotoran kerbau tersedia gratis sepanjang tahun sehingga listrik yang dipanen mudah didapat dan murah diperoleh. Lebih dari itu, biogas merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan. Ia tidak menimbulkan polusi udara sebagaimana bahan bakar minyak seperti bensin dan solar.

Di masa depan, Pulau Moa dapat menjadi daerah percontohan mandiri yang bersahabat dengan lingkungannya. Kalau selama ini Moa belum banyak tersentuh derap pembangunan, kini saatnya pemerintah membantu mereka dengan membangun pembangkit listrik berbahan baku biogas. b siswo

Source: Kerbau Pulau Moa

 

 

 

Incoming search terms:

  • pulau moa maluku barat daya
  • pulau moa maluku
  • sejarah pulau moa
  • Sejarah gunung kerbau di moa
  • Sejarah gunung kerbau pulau moa
  • pulau pulau yang terisolasi
  • sejara pulau MBD
  • sejara sepulau moa
  • Sejarah anak moa
  • sejarah pulau moa maluku barat daya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>